Archive for September 2014

Yuk Jadi Guru yang Kreatif dan Produktif!
Saat ini masih banyak guru yang belum kreatif dan produktif.  Mereka hanya menjadi guru yang sebatas mengajar saja. Padahal banyak sekali yang bisa dikembangkan dari mata pelajaran yang diampunya. Bahkan guru bisa menjadi seorang entrepreneurship yang handal di bidang pendidikan. Mereka tak perlu berdagang, tetapi cukup menjadi guru yang kreatif dan produktif. Salah satu cirinya adalah mereka mampu merancang kegiatan pembelajaran yang efektif, dan berkualitas.
Apa sih guru yang kreatif itu? Lalu apa pula guru produktif? Mari kita jawab pertanyaan ini dengan sebuah senyuman manis terlebih dahulu di bibirmu. Siapa tahu anda dapat menjadi seorang edupreneurship yang mampu membuat model desain sistem pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membahagiakan.
Guru kreatif adalah guru yang tak pernah puas dengan apa yang disampaikannya kepada peserta didik. Dia berusaha menemukan cara-cara baru untuk menemukan potensi atau bakat unik siswa. Baginya, setiap tahun harus ada kreativitas yang dikembangkan dalam dirinya. Sehingga materi yang disampaikannya tak melulu itu-itu saja setiap tahunnya. Bila dia mengajar sudah 10 tahun, maka 10 tahun itulah dia mengulang materi yang itu-itu saja tanpa ada kreativitas di dalamnya. Padahal setiap tahun tentu kita akan mengalami peserta didik yang tidak sama dengan tahun sebelumnya. Di situlah guru dituntut harus kreatif dalam menyampaikan bahan ajarnya sehinggsa sampai ke otak siswa dengan cara-cara menyenangkan.
Hanya guru-guru kreatiflah yang bisa melakukan itu. Dia kan berusaha untuk berani mencoba cara-cara baru melalui penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan begitu guru diharapkan rajin untuk membaca buku dalam menemukan metode pembelajaran terbaru, dan tidak hanya ceramah melulu. Peserta didik benar-benar terlibat aktif dan terjadi inreraksi dua arah di dalamnya.
Guru produktif adalah guru kreatif yang tidak pernah puas dengan pembelajaran yang dilaksanakannya. Dia selalu melakukan refleksi diri melalui penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelasnya sendiri. Melalui kolaborasi dengan teman sejawat, dia akan memperbaiki kekurangannya dalam pembelajaran, dan segera dituliskannya. Hal itulah yang membuatnya menjadi produktif. Apa yang dikerjakannya selalu dituliskan.
Guru produktif akan menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan. Konsisten dan komitmen dalam menjaga diri untuk menulis membuatnya menjadi guru yang produktif. Salah satu contoh yang paling mudah adalah buku pelajaran yang diampunya sudah dibuatnya sendiri dengan perbaikan terus menerus. Diapun belajar dari penulis buku lainnya. Dengan begitu terjadi edupreneurship dimana guru dilatih dan berlatih untuk membuat buku yang berkualitas.
Edupreneurship akan menumbuhkan kebiasaan guru untuk menulis. Menghasilkan tulisan yang kreatif, menarik, dan memiliki nilai komersial dengan dukungan sarana TIK. Selain itu guru akan mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan untuk dapat ditularkan kepada anak didik melalui metode pembelajaran. Pada akhirnya akan merubah guru dari sekedar user (pengguna) buku pelajaran menjadi writer/ producer (penghasil/penulis) buku dan materi pelajaran yang dikuasainya.
Pembelajaran merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kompetensi atau berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Upaya untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran selalu dilakukan tanpa henti. Proses pembelajaran dapat dipandang sebagai sebuah sistem dengan komponen-komponen yang berinterfungsi satu sama lain. Dalam sebuah sistem, komponen yang satu akan menjadi masukan bagi komponen-komponen yang lain dalam mencapai tujuan.
Guru kreatif akan dapat menangkap peluang itu dan membuatnya menjadi guru produktif. Selalu saja ada ide-ide segar yang membuatnya menemukan sistem pembelajaran dengan berbagai model. Bahkan, dia mampu membuat media pembelajarannya sendiri untuk membantu para peserta didiknya menerima materi pelajaran dengan baik. Tak salah, bila guru seperti itu menjadi guru yang kaya. Guru yang tak pernah kehabisan ide kreatifnya, dan membuatnya menjadi semakin produktif dalam menjadi guru di era baru.
Guru di era baru adalah guru yang mampu melihat perubahan yang terus terjadi. Dia menempatkan siswa sebagai komponen penting dalam sitem pembelajaran di sekolah, karena siswa merupakan subyek dari proses dan aktivitas pembelajaran. Pembelajaran harus menjadi sebuah aktivitas yang berfokus pada siswa, dan bukan pada guru yang terlalu dominan di kelas.
Setiap siswa  merupakan individu yang unik dengan potensi kemampuan yang berbeda-beda. Howard Gardner-psikolog dan ilmuwan dari Harvard University mengemukakan sebuah dimensi baru tentang kecerdasan manusia. Kecerdasan itu adalah matematis-Logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal ritmis, kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalistik.
Guru kreatif akan mampu menemukan kecerdasan setiap peserta didiknya. Diapun menjadi produktif karena apa yang ditemukannya menjadi bahan pembelajaran yang menarik. Kalau sudah begitu, edupreneurship atau pendidikan kewirausahaan tinggal disisipkan saja sebagai bumbu yang membuat peserta didik akhirnya mampu mandiri dan bermental pengusaha. Mental pengusaha akan membuatnya tak akan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Dia akan terus berjuang secara mandiri dan mampu memotivasi dirinya sendiri.
Sudahkah kita sebagai guru merubah mind set mereka dari bermental pegawai menjadi bermental pengusaha? Bila jawabannya sudah, maka sekolah tak akan melahirkan lulusan yang menjadi pengangguran terdidik. Buat apa sekolah kalau para guru tidak mampu melahirkan peserta didik yang bermental enterpreneurship. Oleh karenanya para guru harus memiliki ilmu edupreneurship yang membuatnya terlatih menjadi guru yang kreatif, dan produktif.

Kreatif bukan ilmu yang bisa dipelajari tapi sesuatu yang bisa dilatih dengan mulai dari yang sederhana. Bagi siswa, peran guru atau pengajar mempunyai andil yang besar untuk keberhasilan masa depan siswanya. Semoga banyak Guru di Indonesia semakin kreatif, dan para edukator kita mempunyai “entrepreneurship mind set” untuk anak didiknya, Insya Allah … amin.
Mengasah Keterampilan Berpikir Kreatif

Terampilan berpikir kreatif  merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting dalam membangun pilar belajar yang bernilai untuk membangun daya kompetisi bangsa dalam meningkatkan mutu produk pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kecakapan mengolah pikiran untuk menghasilkan ide-ide baru agar produk bangsa kita tidak kalah oleh produk bangsa lain.
Kecakapan berpikir kreatif adalah kecakapan berpikir kritis.  Dalam web Komunitas Berpikir Kritis  dijelaskan bahwa berpikir kritis merupakan  aktivitas yang berdisiplin dalam  mengembangkan konsep,  menganalisis, mensintesis, dan_ atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari pengalaman mengobservasi, merefleksi, mengembangkan penalaran melalui komunikasi yang digunakan sebagai landasan mengembangkan keyakinan dan tindakan.
Terdapat perbedaan makna kecakapan berpikir kreatif dengan berpikir kritis. Pengembangan berpikir kreatif lebih menegaskan pada menghasilkan proses yang menghasilkan ide-ide baru. Sedangkan berpikir kritis lebih menekankan pada disiplin mengembangkan konsep,  menganalisis, mensintesis, dan_atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan sehingga memdapatkan kesimpulan yang tepat.
Keterampilan berpikir kreatif menurut Jurnal Harvard yang dikutip oleh Yodia Antariksa  memiliki empat pilar, yaitu
1 : Associating. ketrampilan mengkoneksikan sejumlah perspektif dari beragam disiplin yang berbeda sehingga membentuk  gagasan yang kreatif.  Asosiasi menggunakan kemampuan dan  kekayaan wawasan dan mengaplikasikannya dalam bidang tertentu  sehingga menghasilkan temuan baru yang inovatif.
2 : Questioning. Mengenai kecerdasan bertanya, Plato menyatakan  “Kecerdasan seseorang tidak diukur dari seberapa bagus ia memberikan jawaban, namun dari ketrampilannya meracik sebuah pertanyaan”. Di Inggris dikembangkan kriteria standar keterampilan bertanya yang sejak dulu Indonesia menggunakan dalam slogan, SIABIDIMAB (siapa, apa, bilamana, dimana, mengapa dan bagaimana)
Siswa yang kreatif adalah siswa yang selalu bertanya. Mereka mendedahkan serangkaian pertanyaan yang mereka rumuskan sehingga mendapatkan aneka gagasan baru. Di balik pertanyaan  terbentang luas hamparan gagasan kreatif yang menunggu untuk diekspresikan.
3: Observing. Kemampuan  melakukan observasi telah melahirkan banyak ide. Mengapa diadakan perjalan bisnis, study tour, studi bandin? Jawabannya, perjalanan selalu membawa berkah tumbuhya ide baru. Kemahiran siswa melakukan observasi dan ketajaman mencium peluang mengembangkan inovasi dibaliknya, merupakan energi siswa berkreasi. Salahnya banyak sekolah mengganti observasi lingkungan dengan cerita sehingga bangun imajinasi kreatif ditumpulkan guru-guru dalam kelas.
4 : Experimenting. Kita mengenal kisah indah dari Thomas Alva Edison yang  melakukan eksperimen sebanyak dua ribu kali sebelum akhirnya menemukan bohlam lampu yang sekarang membuat jutaan orang tidak tidur semalam suntuk, yang membuat pesawat terbang bebas terbang kapan saja, yang membuat pabrik beropresi siang malam sehingga menghabiskan sumber daya alam dengan cepat, yang membuat orang belajar di malam gelap.
Siswa yang kreatif yang tidak takut salah dan mencoba berulang-ulang sampai targetnya tercapai. Mereka juga tak pernah takluk ketika eksperimen gagasan barunya itu kandas. Mereka selalu terus mencoba dan mencoba, sehingga gagasannya berubah menjadi kenyataan.

Guru yang mampu mengembangkan kecakapan berpikir kritis adalah yang dapat menfasilitasi berkembangnya kecakapan siswa menyempurnakan, memperbaharui,  memperbaiki, membuat sesuatu lebih artistik, menngekspresikan imajinasinya sehingga memainkan segala sesuatu dalam pikirannya agar  lebih indah, lebih mudah, lebih praktis, lebih cepat, lebih kuat, lebih aman daripapada  sebelumnya.
Untuk mengembangkan sistem pembelajaran seperti yang diharapkan guru memang memiliki keterbatasan dalam  mengembangkan model pengaturan kelas, interaksi dalam kelas, skenario pembelajaran yang dirancang, materi yang disajikan, strategi pembelajaran yang harus dikemas dalam RPP, hingga harus mengejar target lulus Ujian Nasional.
Bagaimana guru mengembangkan pembelajaran yang memicu siswa berpikir kreatif?
Tugas utama guru dalam mengelola pembelajaran untuk mengasah keterampilan siswa berpikir kreatif mencakup peningkatan keterampilan guru dalam  merancang skenario mengelola kelas, merancang perencanaan  pembelajaran melalui perumusan RPP, menerapkan rencana pembelajaran dalam kegiatan belajar siswa, menilai proses dan hasil belajar, dan mengevaluasi pembelajaran.
Meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas menggambarkan tetang proses untuk memastikan bahwa pembelajaran dalam kelas dapat berjalan lancar tanpa terganggu dengan perilaku prilaku siswa yang mengganggu (Wikipedia).
Dr Robert DiGiulio (Wikipedia) melihat manajemen kelas yang positif merupakan hasil dari terkelolanya empat faktor: bagaimana guru mempersepsikan  siswa mereka dilihat dari dimensi spiritual, bagaimana mereka mengatur lingkungan kelas dilihat dari dimensi fisik, seberapa baik mereka mengelola perilaku siswa  dilihat dari dimensi manajerial dan bagaimana mengajarkan  terampil penguasaan materi atau dilihat dari dimensi pembelajaran.
Pelayanan belajar yang adil kepada seluruh siswa dengan dilakukan secara ihlas merupkan kunci keberhasilan utama. Jika didasari dengan keihlasan, maka guru akan memperlakukan seluruh siswa secara adil. Yang memerlukan pelayanan lebih akan diberi lebih, yang memerlukan pelayanan cepat akan diberi layanan cepat. Kapasitas layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa belajar.
Pengaturan cara siswa duduk agar mereka dapat berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi menjadi pertimbangan penting. Hal yang lebih penting lagi adalah memfasilitasi siswa mengekspresikan pikiran, bertanya, mengomentari, bebas dari rasa takut bersalah, adalah hal penting yang guru perlu kembangkan melalui penciptaan suasana kelas yang kondusif.
Pengaturan siswa belajar sangat dianjurkan tidak selalu menggunakan interaksi dalam kelas. Guru dapat mengatur siswa melakukan observasi lapangan untuk mengamati gejala alam atau gejala sosial di sekitar lingkungan sekolah. Pilar pengembangan keterampilan melakukan kegiatan observasi merupakan bagian penting dalam mengembangkan keterampilan berpikri kreatif.
Mulailah dengan merumuskan masalah, menentukan gejala yang akan dioberservasi, menghimpun data dalam bentuk catatan, foto, bukti  kegiatan dan siswa dapat kembali ke kelas untuk berdiskusi serta menyusun dan mengolah data serta menyusun kesimpulan.
Karya siswa yang telah siswa hasilkan melalui pengalaman belajar dipresentasikan dalaam kelompok. Hasil terbaik dipresentasikan kelompok dalam kelas. Peserta diskusi wajib mengajukan pertanyaan, jawaban, komentar, persetujuan, belajar berbeda pendapat, berbicara santun dan rendah hati.  Selanjutnya siswa mendapatkan tes yang harus dikerjakan secara individual. Begitulah contoh model pembelajaran yang bergerak dinamis.
Kebaikan lain yang perlu guru kembangkan adalah merancang dan mengelola prilaku siswa dalam kelas atau di luar kelas. Yang paling penting di sini adalah bagaimana proses belajar dengan menggunakan cara yang baru berjalan dan bagaimana hasil belajar yang lebih baik terwujud. Siswa dapat menunjukkan hasil belajarnya. Bisa dengan bantuan teknologi atau tanpa teknologi.
Pengembangan keterampilan berpikir kreatif merupakan level berpikir kelas tinggi. Hal ini harus tercermin dalam indikator hasil belajar yang guru kembangkan dalam RPP. Jika analisis menggunakan ranah kognitif Bloom, maka berikut contoh kata kerja yang dapat guru pilih dalam bentuk:

Guru Yang Baik

Beberapa waktu lalu berlangsung  workshop pengembangan SMA RSBI dilaksanakan di Bandung,  salah satu pembicara pada kegiatan  adalah Prof. Muklas Samani dari Surabaya. Pada awal pertemuan beliau menyajikan cerita murid yang tidak berhasil karena gurunya tidak dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan terbaik.
Alkisah terdapat seorang laki-laki  lulusan SMA A. Semasa belajar di sekolahnya, ia tidak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya sehingga ia tidak dapat diterima jadi pegawai di perusahaan mana pun.
Pada satu hari ia terdesak kebutuhan, anaknya yang baru lahir memerlukan susu. Karena kasih kepada anaknya, ia mencuri susu di sebuah pusat perbelanjaan. Dan…ia ketahuan mencuri, lalu dipukuli masa, sampai meninggal.
Di alam kubur ia diperiksa malaikat, dalam pemeriksaan ia menyatakan bahwa benar ia mencuri kerena terdesak dengan kasih sayang kepada anaknya.
“Tapi, mengapa kamu mencuri?”
” Karena saya tidak punya uang!”
“Mengapa tidak berusaha cari uang?”
“Karena saya tidak memiliki keterampilan untuk bekerja!”
” Ya. Sudah kamu masuk neraka!”
” Tuan Malaikat, ada satu hal yang saya usul sebelum saya masuk neraka, tolong masukan pula orang-orang yang menyebabkan saya tidak memiliki keterampilan!”
Karuan saja karena sebagian besar peserta adalah guru, maka cerita pun disikapi gelak tawa. dan guru mengerti bahwa pekerjaannya tidak hanya terkait pada  kepentingan jangka pendek, namun keberhasilan mendidik itu didedikasikan pada kepentingan siswa jangka panjang hingga di menentukan sukses di akhiratnya.
Diskusi dilanjutkan dengan mengidentifikasi guru yang baik.Menurut peserta guru yang baik itu selalu meperhatikan muridnya. Kalau mau mengajar bercerita dulu sehingga membuat siswa senang bersamanya. Guru yang baik memiliki kedekatan psikologis dengan  siswanya sehingga kolaborasi guru dengan siswa tidak terkendala.
Diskusi berlanjut mengidentifikasi indikator guru yang baik. Guru yang baik selalu memperhatikan muridnya, sekali pun pelajaran telah selesai muridnya muridnya masih mau belajar. Murid-muridnya masih asik melanjutkan beraktivitas. Dalam berinteraksi guru yang baik siap dibantah siswanya karena guru  berpendirian haram guru menyalahkan muridnya. Guru berpandangan haram menyalahkan dan membantah siswa karena siswa yang bisa membantah berarti siswa yang berpendirian dan berani bicara atau bertanya. Guru yang baik adalah guru yang dapat dikagumi atau diidolakan siswanya.
Guru yang baik itu bak pelawak. Mungkin tidak ada rumus atau teknik yang baku. Jika di lapangan harus berubah, maka bergantung pada situasi, jika harus berubah maka berubahlah asalkan tetap efektif. Oleh karena itu, jangan-jangan kurikulum kita itu terlalu kaku sehingga tidak memberikan ruang gerak untuk berkreasi.
Guru yang baik ternyata membuat siswanya berhasil. Guru yang menggunakan waktu sependek mungkin, namun siswanya mencapai tujuan yang diharapkan. Pengalaman memberikan pengetahuan dan keterampilan membuat siswa belajar sendiri. Guru yang baik dapat membina siswanya sehingga siswa mengembangkan inisiatifnya sendiri seperti siswa melaksanakan solat tanpa perlu disuruh.
Guru yang baik itu inspiratif, pandai membuat siswa berpikir bahkan bisa membuat sesuatu. Dalam kondisi seperti ini, guru tahu bisa apa siswa sebelumnya sehingga mamahami apa yang harus siswa capai. Dengan demikian guru yang baik memahami yang sesungguhnya siswa butuhkan. Jika yang dilatih adalah menyelesaikan dalam hidup guru dapat menggunakan contoh pertanyaan berikut. Jika kamu akan pergi ke pasar sebaiknya memilih jalan yang mana?
Dengan pertanyaan itu berarti siswa dapat mengembangkan pikirannya sendiri, memilih berbagai alternatif. Oleh karena itu, mata pelajaran pada dasarnya perupakan alat untuk mengantarkan pikiran siswa untuk merumuskan pikiran dalam wadah yang namanya mata pelajaran, namun sebenarnya siswa dapat menyelesaikan dalam berbagai dimensi yang lain yang dibutuhkan dalam hidup.
Penjelasannya pun dicukupkan dengan  saran, guru-guru jangan terjebak dengan output untuk kepentingan jangka pendek, tatepi berilah siswa kita bekal untuk hidup pada jamannya. Pendidikan yang baik adalah membuat siswa kita berhasil.

Jadi, jangan-jangan yang kita berikan kepada siswa itu tidak mendukung sukses hidupnya, melainkan hanya mengungkung siswa dalam ruangan untuk beberapa tahun dan tidak mendapatkan hal yang sesungguhnya siswa perlukan untuk hidupnya.
Cara Menghilangkan Rasa Malas Siswa Saat Belajar Di Kelas
Salah satu hal yang membuat kita ketinggalan pelajaran adalah ketika kita merasakan jenuh atau bosan. Apalagi, jam pelajaran eksak yang diletakkan di akhir pelajaran. Lapar dan kantuk biasa terjadi, terutama pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem full-day dan bimbingan belajar. Kelas 9  misalnya, hampir setiap hari ketika dekat bulan ujian, mau tak mau mereka harus berkutat dengan setumpuk soal untuk latihan.

Ketika guru memberikan pelajaran tambahan atau bimbingan belajar, tidaklah heran jika siswa banyak yang tidur dan merasa tidak bersemangat dalam belajar akibat kelelahan dalam mempelajari soal latihan ujian.

Jika murid bosan, maka tidak guru saja yang di benci melainkan pelajarannya yang seakan -akan "dimusuhi" oleh murid. Akibatnya anak malas belajar dan mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Hal ini kebanyakan akan kembali dipertanyakan oleh orang tua murid kepada gurunya yang mengajar bidang studi tersebut. Sebagai guru, apakah anda mau mengalami seperti dipersalahkan oleh orang tua murid hanya karena nilai anak yang buruk? Tentu saja para guru ingin memberikan ilmunya yang terbaik untuk anak didiknya.

Apakah penyebab kejenuhan itu datang? Berikut adalah penyebab siswa mudah jenuh dalam pelajaran:

1. Tidak suka kepada guru pengajarnya

Siswa akan merasa bosan bahkan tidak akan menganggap kalau dia sedang diajar, jika siswa tersebut tidak suka atau bahkan membenci guru itu.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan siswa tidak suka dengan gurunya:

a. Mata Pelajaran (Mapel) yang diajarkan tidak disukai oleh siswanya
b. Mapelnya tergolong sulit
c. Gurunya kurang aktif (maksudnya, gurunya hanya duduk ditempatnya dan membacakan materi tanpa ada kegiatan pengajaran lain)
d. Gurunya galak (guru yang sering marah-marah tanpa sebab, bisa membuat siswanya menjadi tidak menyukainya dan mapel yang diajarkannya)

2. Lapar

Siswa/murid juga akan merasa bosan jika saat jam pelajaran, perut mereka terasa lapar.

3. Lelah / Capek

Siswa/murid jika sudah merasa lelah, maka mereka akan merasa bosan sehingga tidak memperhatikan gurunya.

4. Siswa bosan atau jenuh dengan kegiatan yang monoton

Siswa akan merasa bosan jika metode pembelajaran hanya seperti biasa yaitu menerangkan, membacakan, menulis, dan memberi tugas serta mencocokkan dengan metode biasa. Siswa butuh kegiatan lain yang lebih menyenangkan.

Apakah anda sebagai guru menginginkan suasana pembelajaran seperti ini? Tentu saja tidak bukan ? Lalu bagaimana solusi agar anak didik menyenangi pelajaran tersebut?

Berikut ini tips yang dapat dilakukan oleh guru di kelas supaya mengembalikan semangat sekaligus memotivasi anak untuk belajar lebih giat:

1. Ketika pertama masuk ke ruangan kelas usahakan untuk tidak langsung memulai pelajaran terlebih dahulu, berikan api motivasi belajar sehingga anak didik seakan-akan "terbakar" semangatnya untuk belajar. Murid akan mencontoh gurunya ketika gurunya memiliki semangat ketika masuk kekelas.

2. Ketika anda sudah berada di kelas, tunjukkan bahwa anda adalah guru yang "fun" atau "humoris" agar siswa selalu merasa senang dan nyaman.

3. Buatlah suatu kegiatan atau aktifitas yang lain tapi masih ada hubungannya dengan mata pelajaran yang anda ajarkan. Misalnya tebak-tebakkan, drama, bernyanyi, dsb.

4. Saat sedang mengajar, usahakan untuk tidak berada di kursi guru terus menerus. Berkelilinglah sesaat untuk lebih dekat dengan siswa/murid sambil memperhatikan apa yang murid kerjakan.

5. Guru yang "Killer" membuat pembelajaran serasa di kejar hantu oleh anak didik. Hal ini akan membuat anak trauma dengan pembelajaran yang diberikan. Untuk itu berikan sugesti kepada siswa dengan menunjukkan bahwa anda tidak seram dan tidak menakutkan.

6. Buatlah metode pembelajaran anda menjadi lebih menyenangkan dan mudah diingat. Misalnya menghafalkan rumus dengan menyanyikannya menggunakan lagu, menghafalkan rumus dengan jalan keledai, dsb

7. Katakanlah semua pelajaran itu tidak sulit dan usahakan anda bertanya atau pancing anak-anak didik untuk bertanya soal - soal manakah yang sulit supaya anda dapat memberikan solusi kepadanya agar bisa dalam mengerjakan soal yang sulit tadi.

Sebenarnya supaya anak didik dapat mengerti, lakukanlah pendekatan layaknya anak sendiri sehingga anak didik belajar dengan nyaman dan satu lagi, tanamkan budaya bertanya pada anak didik agar ia tidak lagi malu-malu bertanya namun bisa mengetahui apa yang belum ia ketahui karena sifat manusia adalah ingin mengetahui.


Pengutip : Moh.Safi'i  


(Dikutip dari berbagai sumber)




















Welcome to My Blog

adsense

Search This Blog

Map Viewer SMK Izzata

Loker SMK Izzata

Total Pageviews

Popular Post

Komentar Teman

Komentar Anda

Powered byEMF Form Builder

LDKS Kebangsaan

Followers

Translate

Labels

- Copyright © SMK Izzata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Andri Yunatra, S.Pd -